Di dekatku senyum manismu terukir,
Tapi di tengah mereka tawa indahmu merekah...
Bersamaku engkau seindah Biru,
Tapi bersama mereka engkau menjelmakan Pelangi...
-Azzura26-
***
Aku wanita pencemburu, dengan ego nomor satu.
Akulah wanita yg memaksa menjadi satu-satunya, meski kutau engkau tak ingin.
Sedih, sakit, andai kau tau.., tersenyum dan tertawa dengan api yg membakar hati. Tapi aku tak pernah lagi berkata. Karena aku tau, tak ada tempat untuk cemburu.
Bukan dengan 'siapa' aku cemburu, tapi karena 'apa'. Ya.. Bukan pada org lain cemburu itu kutujukan, tapi pada sikapmu yg berbeda.
Aku tak cemburu pada mereka, pada temanmu, tapi aku cemburu karena sikapmu yg berbeda. Caramu memperlakukanku dan mereka berbeda.
Dari semula aku mengenalmu, aku menyukaimu karena perhatianmu yg kau tunjukan trhadap temanmu begitu tulus, dan perangaimu sangat menyenangkan pada mereka (saat itu aku temanmu juga).
Akhirnya kamulah yg kupilih diantara sekian banyak pria. Tapi kemudian aku sadar akan sebuah perbedaan, teman dan kekasih tidaklah sama.
Awalnya aku kecewa, awalnya aku sakit, tapi aku tetap bertahan karena aku yakin, suatu saat kelak kau pun bisa memperlakukanku sama seperti mereka. Tapi hampir 2th berlalu dan kembali kusadari, harapanku takkan berujung nyata, karena kekasih bukanlah teman.
Kadang aku berpikir gila, kenapa aku tak menjadi temanmu saja, dan menyudahi kisah kasih kita, tapi lagi-lagi sebuah kesadaran menamparku, "teman, kekasih, dan mantan kekasih masih tetap berbeda"
Aku ingin menjadi teman yg kau perhatikan, bukan kekasih yg kau biarkan. Tapi jika jadi teman aku tak bisa memilikimu. Ahh... Kamu membuatku bingung rupanya.
Akhirnya aku kembali bertanya ? Kenapa teman2mu lebih istimewa ???
Kenapa untuk mereka bisa kau lakukan apa saja, kau korbankan apa saja, dan denganku tidak ?
Kenapa dengan temanmu kamu bisa melakukan apa saja, tapi denganku kau selalu menginginkan satu hal yang sama ?
Kenapa dengan mereka kau bisa tertawa lepas, tapi denganku kau cuma tersenyum saja ?
Sedemikian membosankannya kah aku ¿??
Pertanyaan yang sama, dan selalu sama. Pertanyaan yg tak pernah berani kuucapkan, dan jadi pertanyaan yg tak pernah terjawab.
Aku iri, iri sekali pada teman2mu, mereka yg bisa selalu didekatmu, dan mereka yg selalu bisa membuatmu bebas melakukan apa saja.
Padahal akupun tak pernah melarangmu melakukan hal2 gila saat bersamaku, tapi kau tak pernah mau. Kau hanya melakukannya bersama temanmu.
Aku iri, sangat iri... Aku cemburu.
Sakit, sakit sekali rasanya, tapi aku tak pernah berani bilang. Aku tau kau pasti akan marah jika aku mengataknnya, kau akan bilang aku berlebihan. Itu sudah pernah kau katakan, dan aku tak mau mendengarnya lagi, itu hanya menambah sakit yg kupikul.
Lalu, seorang temanmu yg lain berkata bahwa tingkahmu akan membuatku marah dan cemburu, dan kau langsung percaya padanya !!!
Aku ? Tak pernah sehebat itu bila menegurmu.
Kekasih, bisakah kau bayangkan betapa sedihnya aku ?
Dapatkah kau gambarkan, betapa lemahnya aku dibanding teman2mu...
Aku ini, Siapa ?????
Selasa, 24 November 2015
Minggu, 22 November 2015
Cinta Tapi Tak Sekata
Alur kisah kita seperti papan catur, hitam putih tak pernah sama.
Cerita kita adalah cerita yg sama tapi berulang, dengan pelaku yg bergantian.
Hanya saja tak selalu bisa kita sadari, bahwa kesalahan yg kita lihat, pernah kita lakukan sendiri.
Tak selalu bisa kita mengerti, sakit yg kita rasakan saat ini pernah kita berikan pada orang lain.
Aku mengakui kesalahanmu yg seringkali menyakitiku, terkadang pernah kulakukan padamu. Karena itu semampuku mengalahkan egoku dan melupakan sakit di hatiku. Tapi nampaknya itu tak berlalu padamu.
Kamu hanya mengakui kesalahanmu yg terang terangan ku tunjuk, tanpa pernah belajar mengintrospeksi dirimu sendiri. Kamu hanya sadar saat kutunjuk, dan akhirnya membuatmu berpikir aku selalu menyalahkanmu dan tak pernah menganggapmu benar. Tak sadarkah kamu ?
Kita membuat lingkaran setan yg terus menerus berputar tak pernah berhenti, jika hanya saling menyalahkan dan beranggapan diri kita tk pernah dianggap benar.
Dibibirmu terucap maaf untuk sebuah kesalahan, tapi di dalam hati kau tak pernah mengakui salahmu. Untuk apa ???
Sayang, aku lelah terus begini. Aku tau tak ada satupun kisah yg selalu berjalan mulus, tapi kisah kita selalu terguncang oleh hal hal yg tidak perlu.
Ingin kuteriakkan di depanmu apa yg selama ini kusimpan, apa yg selama ini kulihat pada dirimu. Tapi aku tau itu tk membawa perubahan yg lebih baik selain membuatmu semakin berpikir "ya, salahkan terus saja aku".
Sayang, andai tak memikirkan perasaanmu, mungkin aku sudah jauh jauh hari berkata, betapa selama ini tak ada kesalahan apapun yg kau pelajari.
Trkadang kesalahanmu yang lalu, kulakukan dihari ini, tapi setidaknya aku maaih mencoba membenahi diriku, tanpa harus selalu melewati perdebatan sengit.
Aku tau egoku tinggi, tapi tidakkah kau sadar kau memiliki ego yang sama ?
Aku sering lelah menghadapimu, tapi aku mencoba berpikir bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia.
Kuatur kau tak suka, kubiarkan kau marah.
Kuperhatikan, kau tak bergeming, kubiarkan saja kau bilang aku tak menganggapmu penting.
Aku diam kau bilang aku tak jujur, aku bicara katamu kau tak pernah benar dimataku ?
Maumu apa Kasih ???
Bisakah sedikit kau gunakan hatimu, untuk sedikit menengok ke belakang dan melihat kesalahan2 kita di masa lalu, agar tak harus selalu aku yg bicara mengingatknmu, agar tak selalu terlihat aku menyalahkanmu.
Bisakah sedikit kau nilai dirimu sendiri dengan sikap yg rasipnal, tanpa diikuti jiwa pesimis dan sarkasme.
Aku sayang padamu, tapi sabarku masih bertepi..
Cerita kita adalah cerita yg sama tapi berulang, dengan pelaku yg bergantian.
Hanya saja tak selalu bisa kita sadari, bahwa kesalahan yg kita lihat, pernah kita lakukan sendiri.
Tak selalu bisa kita mengerti, sakit yg kita rasakan saat ini pernah kita berikan pada orang lain.
Aku mengakui kesalahanmu yg seringkali menyakitiku, terkadang pernah kulakukan padamu. Karena itu semampuku mengalahkan egoku dan melupakan sakit di hatiku. Tapi nampaknya itu tak berlalu padamu.
Kamu hanya mengakui kesalahanmu yg terang terangan ku tunjuk, tanpa pernah belajar mengintrospeksi dirimu sendiri. Kamu hanya sadar saat kutunjuk, dan akhirnya membuatmu berpikir aku selalu menyalahkanmu dan tak pernah menganggapmu benar. Tak sadarkah kamu ?
Kita membuat lingkaran setan yg terus menerus berputar tak pernah berhenti, jika hanya saling menyalahkan dan beranggapan diri kita tk pernah dianggap benar.
Dibibirmu terucap maaf untuk sebuah kesalahan, tapi di dalam hati kau tak pernah mengakui salahmu. Untuk apa ???
Sayang, aku lelah terus begini. Aku tau tak ada satupun kisah yg selalu berjalan mulus, tapi kisah kita selalu terguncang oleh hal hal yg tidak perlu.
Ingin kuteriakkan di depanmu apa yg selama ini kusimpan, apa yg selama ini kulihat pada dirimu. Tapi aku tau itu tk membawa perubahan yg lebih baik selain membuatmu semakin berpikir "ya, salahkan terus saja aku".
Sayang, andai tak memikirkan perasaanmu, mungkin aku sudah jauh jauh hari berkata, betapa selama ini tak ada kesalahan apapun yg kau pelajari.
Trkadang kesalahanmu yang lalu, kulakukan dihari ini, tapi setidaknya aku maaih mencoba membenahi diriku, tanpa harus selalu melewati perdebatan sengit.
Aku tau egoku tinggi, tapi tidakkah kau sadar kau memiliki ego yang sama ?
Aku sering lelah menghadapimu, tapi aku mencoba berpikir bahwa tak ada manusia yang sempurna di dunia.
Kuatur kau tak suka, kubiarkan kau marah.
Kuperhatikan, kau tak bergeming, kubiarkan saja kau bilang aku tak menganggapmu penting.
Aku diam kau bilang aku tak jujur, aku bicara katamu kau tak pernah benar dimataku ?
Maumu apa Kasih ???
Bisakah sedikit kau gunakan hatimu, untuk sedikit menengok ke belakang dan melihat kesalahan2 kita di masa lalu, agar tak harus selalu aku yg bicara mengingatknmu, agar tak selalu terlihat aku menyalahkanmu.
Bisakah sedikit kau nilai dirimu sendiri dengan sikap yg rasipnal, tanpa diikuti jiwa pesimis dan sarkasme.
Aku sayang padamu, tapi sabarku masih bertepi..
Kamis, 19 November 2015
sweet birthday its gone, its over, my birthday is die
26 Februari 2013
Kenangan Terakhir bersama kue dan lilin ulang tahun. Bersama sahabat berbagi kebahagian.
Tertawa bersama, yg lebih berarti daripada sebuah kado saat aku merasa mereka ikut bahagia di hari bahagiaku.
Sekarang, moment itu telah pergi, moment itu berakhir.
Tak ada lagi kue..
Tak ada lagi lilin lilin kecil..
Dan tk ada lagi kehadiran sahabat yg meramaikan hari spesialku.
Sedih, tentu aku sedih...
Tak ada lagi kejutan, tak ada lg kemeriahan,
Dan terlebih, serasa tak ada lagi yg mempedulikan.
Tentu itu hanya perasaanku saja, aku tau itu
Karena nyatanya, aku yakin banyak yg masih peduli padaku. Tapi semuanya tk lagi seistimewa dahulu, tak ada lagi debar debar penantian menantikan hari itu. Karena tak akan ada apapun yg terjadi, semua akan tetap seperti hari biasa, hari spesialku...tak lagi istimewa.
Ratusan ucapan dan beberapa do'a do'a singgah menghiasi beranda facebookku, tapi itu tak berarti apapun. Bahkan mereka yg tak kenal dan tak pernah bertemu denganku pun bisa mengucapkannya. Tapi bukan mereka, bukan mereka yang kunanti. Yah.. Setidaknya ucapan2 di dunia maya sedikit menghiburku, berandai-andai mereka benar2 orang yg peduli. Entah siapapun mereka, terimakasih, setidaknya kalian meramaikan dunia mayaku agar tak sesunyi dunia nyata ini..
Sedih, aku semakin sedih...
Melihat berseliweran orang orang merayakan kebahagiaan hari spesialnya. Munafik bila kukatakan tak iri pada mereka, aku iri, sangat iri.
Melihat orang orang bergembira di hari bahagianya, aku ingin seperti itu. Aku ingin merasakan bahwa orang lain peduli, menganggap hari spesialku sama spesialnya bagi mereka. Tapi nyatanya aku cuma bisa tersenyum pahit. Kenyataannya aku sendirian menikmati detik demi detik hari spesialku berlalu begitu saja.
Apa lagi ygng kuharapkan ? Kenyataannya aku hidup di tengah-tengah orang asing. Yang bertemu, bercanda setiap hari denganku, tapi sebenarnya sama sekali tak mengenalku. Aku,,, bukan siapa-siapa !
Sedih, perasaanku tak dapat lagi kugambarkan,
Mengingat kenangan dahulu, saat aku bersama keluarga dan sahabat yg begitu peduli, dan menghadapi kenyataan bahwa sekarang semuanya tak ada lagi disini, disampingku. Hanya do'a do'a yg terus mengalir sedang hadirnya tak dapat kuraba,
Betapa perih semakin menusuk hati saat aku merasa sepi..
Aku sendiri...
Kenangan Terakhir bersama kue dan lilin ulang tahun. Bersama sahabat berbagi kebahagian.
Tertawa bersama, yg lebih berarti daripada sebuah kado saat aku merasa mereka ikut bahagia di hari bahagiaku.
Sekarang, moment itu telah pergi, moment itu berakhir.
Tak ada lagi kue..
Tak ada lagi lilin lilin kecil..
Dan tk ada lagi kehadiran sahabat yg meramaikan hari spesialku.
Sedih, tentu aku sedih...
Tak ada lagi kejutan, tak ada lg kemeriahan,
Dan terlebih, serasa tak ada lagi yg mempedulikan.
Tentu itu hanya perasaanku saja, aku tau itu
Karena nyatanya, aku yakin banyak yg masih peduli padaku. Tapi semuanya tk lagi seistimewa dahulu, tak ada lagi debar debar penantian menantikan hari itu. Karena tak akan ada apapun yg terjadi, semua akan tetap seperti hari biasa, hari spesialku...tak lagi istimewa.
Ratusan ucapan dan beberapa do'a do'a singgah menghiasi beranda facebookku, tapi itu tak berarti apapun. Bahkan mereka yg tak kenal dan tak pernah bertemu denganku pun bisa mengucapkannya. Tapi bukan mereka, bukan mereka yang kunanti. Yah.. Setidaknya ucapan2 di dunia maya sedikit menghiburku, berandai-andai mereka benar2 orang yg peduli. Entah siapapun mereka, terimakasih, setidaknya kalian meramaikan dunia mayaku agar tak sesunyi dunia nyata ini..
Sedih, aku semakin sedih...
Melihat berseliweran orang orang merayakan kebahagiaan hari spesialnya. Munafik bila kukatakan tak iri pada mereka, aku iri, sangat iri.
Melihat orang orang bergembira di hari bahagianya, aku ingin seperti itu. Aku ingin merasakan bahwa orang lain peduli, menganggap hari spesialku sama spesialnya bagi mereka. Tapi nyatanya aku cuma bisa tersenyum pahit. Kenyataannya aku sendirian menikmati detik demi detik hari spesialku berlalu begitu saja.
Apa lagi ygng kuharapkan ? Kenyataannya aku hidup di tengah-tengah orang asing. Yang bertemu, bercanda setiap hari denganku, tapi sebenarnya sama sekali tak mengenalku. Aku,,, bukan siapa-siapa !
Sedih, perasaanku tak dapat lagi kugambarkan,
Mengingat kenangan dahulu, saat aku bersama keluarga dan sahabat yg begitu peduli, dan menghadapi kenyataan bahwa sekarang semuanya tak ada lagi disini, disampingku. Hanya do'a do'a yg terus mengalir sedang hadirnya tak dapat kuraba,
Betapa perih semakin menusuk hati saat aku merasa sepi..
Aku sendiri...
Rabu, 18 November 2015
manusia purba (memorinya)
Sumpah bikin bete ! Kalo ngadepin orang yg kolot, telmi, dan sok sokan. Gila deh ya, ada orang macam begitu di dunia.
Dia temen sekantorku, alih-alih si mayrisa yg licik dan munafik, yg ini justru terkesan innocent, semau gue, dan susah dibilangin.
Ekspresinya yg seolah ngga tau apa2 itu yg bikin dongkol setengah mati.
Beberapa sifat naifnya yg bikin gue eneg banget, diantaranya :
1. Ngeyel dan kolot
Bete ngga sih punya temen kayak gitu ? Pikirannya itu ya ampunnn..kuno banget. Dan susah dibilangin. Dia punya kebiasaan, kalo ngantri mandi sore(biasanya aku mandi duluan pas dia masih tidur) suka masak air, niatnya si baik buat cadangan air panas ntar sore pas karyawan pulang kerja(kita karyawati di sebuah koperasi yg notabene kerjanya sampe malem) Yg nyebelin, habis airnya ditaruh atas kompor, ditinggal tidur lagi, padahal 10menit aja tuh air udah mendidih,kecuali kalo masaknya sekuali. Borosnyaa.. Terus kalo pas mandi aore duluan, air keran suka dikucurin dulu dibuang, alasannya biar cepet adem(air tampungan kan kalo siang ampe aore agak anget) ya ampun, iyalah cepet adem, kalo air satu tampungan abis kn ganti air baru, jadinya adem, kebayang borosnya ? Kenapa juga selangnya ngga dikucurin ke dalem bak mandi, biar ngga kebuang percuma itu aer bersih.
Yang nyebelin diatas yg nyebelin adalah, kalo dibilangin, njawabnya enak "dari dulu aku udah biasa kayak gitu kok" *nangisgulingguling
2. Sok tau
Kalo ada orang ngomong apa, suka otomatis nyambung, eh bukan nyambung ding, lebih tepatnya nyangkal. Entah ngomongin apa aja, ntar otomatis dia keluarin statement yg berlawanan. Yg ngga jelas sumbernya dari mana. Dan ditambah sifat nomer satunya dia "pekok alias ngeyel* jadinya mau ngbrol malah jadi debat ngga penting. Udah aku kasih fakta dan bukti, sampe browsing ini dan itu segala macem, ngebuktiin kalo omongan dia ngga berdasar, masih aja ngeyel. Ntar endingnya bisa lebih enak lagi jawabnya "ya nggak tau juga ya, yg penting aku taunya kayak gitu." hatdeeuuuuhhhh....
3. Lola
Ini nih.. Yg bikin makin dongkol aja... Telminya ya ampuuunnn... Udah gitu gantian nyalahin yg ngomong lagi. Lha dianya yg lama, orang lain yg sisalahin. Sementara aku ngomong didepan banyak orang, semuanya ngerti, dianya doang yg telat paham, eh ngmongnya aku kurang jelas ngmongnya. Ini telmi apa budeg sih ?
Untuk keanehan2 lain yg masih bisa aku tolerir, cz ngga parah2 banget, aku masih mencoba maklun.. Tapi kalo ngadepin 3 yg diatas, kadang suka bikin mager, males ngmong, malea ngapa2in lagi.. Ujung2nya bete sih...
Dia temen sekantorku, alih-alih si mayrisa yg licik dan munafik, yg ini justru terkesan innocent, semau gue, dan susah dibilangin.
Ekspresinya yg seolah ngga tau apa2 itu yg bikin dongkol setengah mati.
Beberapa sifat naifnya yg bikin gue eneg banget, diantaranya :
1. Ngeyel dan kolot
Bete ngga sih punya temen kayak gitu ? Pikirannya itu ya ampunnn..kuno banget. Dan susah dibilangin. Dia punya kebiasaan, kalo ngantri mandi sore(biasanya aku mandi duluan pas dia masih tidur) suka masak air, niatnya si baik buat cadangan air panas ntar sore pas karyawan pulang kerja(kita karyawati di sebuah koperasi yg notabene kerjanya sampe malem) Yg nyebelin, habis airnya ditaruh atas kompor, ditinggal tidur lagi, padahal 10menit aja tuh air udah mendidih,kecuali kalo masaknya sekuali. Borosnyaa.. Terus kalo pas mandi aore duluan, air keran suka dikucurin dulu dibuang, alasannya biar cepet adem(air tampungan kan kalo siang ampe aore agak anget) ya ampun, iyalah cepet adem, kalo air satu tampungan abis kn ganti air baru, jadinya adem, kebayang borosnya ? Kenapa juga selangnya ngga dikucurin ke dalem bak mandi, biar ngga kebuang percuma itu aer bersih.
Yang nyebelin diatas yg nyebelin adalah, kalo dibilangin, njawabnya enak "dari dulu aku udah biasa kayak gitu kok" *nangisgulingguling
2. Sok tau
Kalo ada orang ngomong apa, suka otomatis nyambung, eh bukan nyambung ding, lebih tepatnya nyangkal. Entah ngomongin apa aja, ntar otomatis dia keluarin statement yg berlawanan. Yg ngga jelas sumbernya dari mana. Dan ditambah sifat nomer satunya dia "pekok alias ngeyel* jadinya mau ngbrol malah jadi debat ngga penting. Udah aku kasih fakta dan bukti, sampe browsing ini dan itu segala macem, ngebuktiin kalo omongan dia ngga berdasar, masih aja ngeyel. Ntar endingnya bisa lebih enak lagi jawabnya "ya nggak tau juga ya, yg penting aku taunya kayak gitu." hatdeeuuuuhhhh....
3. Lola
Ini nih.. Yg bikin makin dongkol aja... Telminya ya ampuuunnn... Udah gitu gantian nyalahin yg ngomong lagi. Lha dianya yg lama, orang lain yg sisalahin. Sementara aku ngomong didepan banyak orang, semuanya ngerti, dianya doang yg telat paham, eh ngmongnya aku kurang jelas ngmongnya. Ini telmi apa budeg sih ?
Untuk keanehan2 lain yg masih bisa aku tolerir, cz ngga parah2 banget, aku masih mencoba maklun.. Tapi kalo ngadepin 3 yg diatas, kadang suka bikin mager, males ngmong, malea ngapa2in lagi.. Ujung2nya bete sih...
Jumat, 13 November 2015
Seberapa Besar Cinta Harus Bersabar ?
Aku lelah, mulai goyah
Dan cintaku semakin melemah..
Bagaimana mungkin aku bertahan
Jika genggammu perlahan kau lepaskan,
Bagaimana mungkin aku tak ragu
Jika tak lagi dapat kuhirup aroma rindumu...
***
13/11/15 22.13
Seperti biasa saat kau terlelap meninggalkanku, aku masih berkedip menatap garis cahaya dari celah jendela. Malam ini lebih sulit tuk pejamkan mata. Runduku mengusik kantuk, membiarkan anganku melayang jauh, berharap mampu menemuimu.
Kamu tau ? Rindu ini menyesakkan dada, mencoba menarik perhatianmu untuk sedikit peduli. Tapi kau tak bergeming. Menutup telpon dengan kata yg sama, dengan cara yang sama, dengan nada yg sama.
Rinduku kecewa, ia terabaikan.
Rinduku marah, pada lidah yg tak terus terang berkata, pada tangan yg tak jujur menulis, menyampaikannya pada sang tercinta,
Rinduku tak mau mengerti, sama sepertimu yg tak peduli, hanya menyalahkanku yg seolah tak mau mempertemukan kalian. Rinduku sama sepertimu, sering menyiksa batinku. Rinduku sama sepertimu, tapi kalian sungguh berbeda, bertolak belakang. Jadi mana yg benar, -sama, atau berbeda ?- entah. Kalian berbeda, tak pernah kompak, dan tak pernah mau hadir berdampingan.. Mengusikku bergantian.
Kamu tau yg paling kuinginkan ? Aku ingin perhatian.
Kamu bertanya "tidak cukupkah fakta bahwa aku mencintaimu ?"
Aku menjawab "apakah cinta memang acuh hakikatnya? Apa bedanya cinta dan tidak, jika semuanya sama saja, sama2 acuh, sama2 tak peduli"
Kamu melontarkan kejengkelanmu " jadi intinya kamu meragukan cintaku ? Jadi apa artinya KITA jika kau tak meyakininya ?"
Kita berdebat, semakin panas, dan kamu marah.
Karena aku tak percaya pada cintamu,
Dan akupun marah, karena kamu masih tak memperhatikanku
Aku sedih membuatmu marah, tapi aku senang membuatmu banyak berkata2 padaku,,
Rinduku masih bergejolak, memakiku yg masih diam tak berkata. Memaksaku segera bicara, 'ayolah, jangan hanya memasang kode saja, katakan langsung tentang kehadiranku, aku bosan berdesakan dengan teman2 baruku yg semakin hari semakin bertumpuk menyesakan ruang.' dan aku tersadar rinduku beranak pinak, semakin banyak.
Kamu, kenapa masih tak mengerti, rinduku semakin banyak, memenuhi setiap ruang yang ada, membuat nafasku semakin sesak, tidakkah kamu mengerti, mereka menanti sebuah pertemuan denganmu.
Rinduku bahkan tk pedulu padaku, ia hanya menginginkanmu.
Andai bisa kau dengar gemuruh yg semakin riuh, kau akan tau bahwa hatiku semakin penuh. Masihkah kau acuh ??
Tolong singkirkan bisumu, dan berikan sedikit perhatianmu
Aku Merindukanmu...
Dan cintaku semakin melemah..
Bagaimana mungkin aku bertahan
Jika genggammu perlahan kau lepaskan,
Bagaimana mungkin aku tak ragu
Jika tak lagi dapat kuhirup aroma rindumu...
***
13/11/15 22.13
Seperti biasa saat kau terlelap meninggalkanku, aku masih berkedip menatap garis cahaya dari celah jendela. Malam ini lebih sulit tuk pejamkan mata. Runduku mengusik kantuk, membiarkan anganku melayang jauh, berharap mampu menemuimu.
Kamu tau ? Rindu ini menyesakkan dada, mencoba menarik perhatianmu untuk sedikit peduli. Tapi kau tak bergeming. Menutup telpon dengan kata yg sama, dengan cara yang sama, dengan nada yg sama.
Rinduku kecewa, ia terabaikan.
Rinduku marah, pada lidah yg tak terus terang berkata, pada tangan yg tak jujur menulis, menyampaikannya pada sang tercinta,
Rinduku tak mau mengerti, sama sepertimu yg tak peduli, hanya menyalahkanku yg seolah tak mau mempertemukan kalian. Rinduku sama sepertimu, sering menyiksa batinku. Rinduku sama sepertimu, tapi kalian sungguh berbeda, bertolak belakang. Jadi mana yg benar, -sama, atau berbeda ?- entah. Kalian berbeda, tak pernah kompak, dan tak pernah mau hadir berdampingan.. Mengusikku bergantian.
Kamu tau yg paling kuinginkan ? Aku ingin perhatian.
Kamu bertanya "tidak cukupkah fakta bahwa aku mencintaimu ?"
Aku menjawab "apakah cinta memang acuh hakikatnya? Apa bedanya cinta dan tidak, jika semuanya sama saja, sama2 acuh, sama2 tak peduli"
Kamu melontarkan kejengkelanmu " jadi intinya kamu meragukan cintaku ? Jadi apa artinya KITA jika kau tak meyakininya ?"
Kita berdebat, semakin panas, dan kamu marah.
Karena aku tak percaya pada cintamu,
Dan akupun marah, karena kamu masih tak memperhatikanku
Aku sedih membuatmu marah, tapi aku senang membuatmu banyak berkata2 padaku,,
Rinduku masih bergejolak, memakiku yg masih diam tak berkata. Memaksaku segera bicara, 'ayolah, jangan hanya memasang kode saja, katakan langsung tentang kehadiranku, aku bosan berdesakan dengan teman2 baruku yg semakin hari semakin bertumpuk menyesakan ruang.' dan aku tersadar rinduku beranak pinak, semakin banyak.
Kamu, kenapa masih tak mengerti, rinduku semakin banyak, memenuhi setiap ruang yang ada, membuat nafasku semakin sesak, tidakkah kamu mengerti, mereka menanti sebuah pertemuan denganmu.
Rinduku bahkan tk pedulu padaku, ia hanya menginginkanmu.
Andai bisa kau dengar gemuruh yg semakin riuh, kau akan tau bahwa hatiku semakin penuh. Masihkah kau acuh ??
Tolong singkirkan bisumu, dan berikan sedikit perhatianmu
Aku Merindukanmu...
Langganan:
Komentar (Atom)